Contoh cerpen tentang listrik

Contoh cerpen hemat listrik - Halo sobat, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi contoh cerpen yakni tentang listrik. Bagaimana kita berhati hati saat menggunakan listrik supaya tidak celaka dan aman dalam menggunakan listrik. Cerpen ini pernah saya gunakan untuk lomba cerpen yang diadakan oleh PLN, bagi sobat yang udah gak sabar, silahkan langsung saja berikut cerpennya.

contoh cerpen listrik



IF Only that time I



“If only that time I..” atau “Jika saja saat itu aku..” adalah kata yang selalu kita katakan setiap kali kita membayangkan sebuah peristiwa di masa lampau, peristiwa yang bertolak belakang dengan apa yang terjadi sebenarnya, apa yang telah kita perbuat sebenarnya, dan membandingkannya dengan keadaan yang sekarang. Sekarang aku telah terbiasa menggunakan kalimat ini, mungkin akibat semua yang telah aku lalui belakangan ini yang sangat aku sesali, sulit rasanya untuk melupakan kejadian itu, yang ku inginkan hanyalah kembali ke saat itu untuk mengubah masa lalu, namun semua itu hanyalah hal yang mustahil bagiku. Ini adalah pengalamanku yang tidak akan pernah bisa ku lupakan.

    Namaku Renata, keluarga dan teman-temanku selalu memanggilku Rena, aku masih berumur 18 tahun. Aku tinggal sendiri di sebuah apartemen di kota Jakarta, Jakarta adalah kota yang indah menurutku, andai saja keluargaku dapat melihat keindahan ini, namun Ayah dan Ibuku tidak pernah sekalipun menjenguk ku disini, mungkin karena kesibukan dan juga jarak yang cukup jauh, atau bisa juga mereka membenciku. Keluargaku tinggal di Pulau Lombok, NTB, aku pun lahir dan tumbuh disana, namun karena desakan pendidikan yang mengharuskanku merantau menuntut ilmu hingga ke ibu kota. Oh iya, aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, benar, aku memiliki seorang adik, adik laki-laki. Tak tau mengapa dia selalu membuatku kesal, dia sepertinya sangat membenciku. Namanya adalah Louie dia masih berumur 11 tahun, orangtuaku selalu menyayanginya, dan selalu membelanya. Aku merasa seperti dianak-tirikan oleh kedua orangtuaku. Inilah salah satu faktor aku menjauh dari kampung halamanku. Sudah setahun aku tinggal di Jakarta, tak sekali pun aku pulang menjenguk kampung halamanku dan tak sekalipun keluargaku menjengukku disini bahkan telfon dan pesan pun tak ada, uang saja yang terus mengalir di rekeningku, tidak ada pesan ataupun telfon dari mereka, aku semakin merasa di buang dengan tinggal jauh seperti ini. Namun kadang orangtuaku mengirimkan barang-barang yang tidak ku butuhkan, maksudku adalah satu-satunya yang ku butuhkan adalah mereka menjengukku kemari, bukannya malah mengirimkanku gadget keluaran terbaru yang biasa mereka lakukan. Sekalipun aku tidak pernah membuka setiap barang yang mereka berikan padaku, yang selalu ku gunakan adalah smartphone hasil keringatku yang hanya seharga dibawah satu juta rupiah yang ku beli sendiri dengan hasil menabung selama 3 bulan berkerja sampingan di sebuah cafe yang berada tepat didepan apartemen ku. Walau telah rusak dan cacat aku masih suka memakai handphone ini. Setahun merantau membuatku sangat rindu kampung halaman dan keluargaku, bahkan aku merindukan Louie.

    Suatu hari datang surat dari orangtuaku yang berisi,

“Untuk Rena di Jakarta, Assalamualaikum Rena semoga kau sehat-sehat saja disana nak, maaf Ayah dan Ibu tidak pernah sempat mengubungimu, kau tau sendiri urusan bisnis kami sangat banyak, kami jadi terlalu sibuk untuk anak-anak kami, akhir pekan ini kami berencana mengunjungimu nak, semoga kau memaafkan kami, Wassalamualaikum.”

    Sangat senang hatiku membacanya, seakan hilang beban-beban di pundakku selama ini. Aku sangat merindukan mereka, terutama Louie, aku ingin memarahinya lagi seperti dulu lagi, hehe. Jika saja dari dulu mereka sudah begini, tidak akan terlalu berat bebanku hidup sendiri seperti ini. Besok adalah hari mereka akan datang ke Jakarta, malam ini mereka pasti sedang menyiapkan barang-barang yang akan dibawa, aku juga harus siap-siap malam ini, disaat aku ingin men-charge handphoneku, mungkin karena terlalu senang akan besok, tanpa sengaja port dan kabel yang tersambung ke listrik tertarik cukup kuat hingga terlihat kabel utamanya, aku memasangnya kembali tanpa takut. Setelah ku baca dari internet ternyata banyak kasus dari smartphone yang bertipe sama dengan yang ku miliki saat ini dapat membahayakan pemiliknya, terutama pada kabelnya, aku tidak terlalu peduli akan hal ini, karena aku masih lebih senang menggunakan barang hasil sendiri walaupun rusak dibandingkan barang pemberian orangtuaku, asalkan aku berhati-hati tak apa kan?

    Akhir pekan aku menjemput mereka di bandara, aku berangkat 2 jam lebih cepat untuk menjemput mereka karena ini Jakarta, aku takut nanti terjebak macet dan terlambat. Aku sampai tepat setengah jam sebelum jadwal, aku memang berniat menunggu. Sejam lebih aku menunggu  namun mereka belum saja mendarat, tumben saja delay sampai selama ini, aku sangat gelisah, mungkin karena rindu yang telah lama ku tahan ini. Setelah 1 jam setengah menunggu akhirnya pesawat landing,aku mencari menunggu mereka di kursi bandara, dari kejauhan aku melihat Louie, tapi mengapa hanya Louie yang terlihat? Apakah mereka ada kesibukan tertentu sehingga membatalkan penerbangan  mereka? Tak apalah, cukup Louie yang menjengukku aku sudah senang, aku juga mengerti dengan kondisi Ayah dan Ibu ku. Aku langsung bergegas menghampiri adikku dan menegurnya dengan ramah.

    “Hai Lou, bagaimana perjalananmu? Apakah menyenangkan? Aku sangat merindukanmu. Betapa besarnya dirimu sekarang. Dimana Ayah dan Ibu? Aku juga sangat merindukan mereka.” Tanyaku.

    “Dasar bodoh! Mereka sibuk berkerja mana sudi menjengukmu!” Jawab Louie.

    Aku sangat terkejut dengan  jawaban adikku. Aku memang tidak heran dengan kesibukan orangtuaku, namun cara Louie menjawabku sangat mengherankan, apakah dia masih membenciku? Aku lalu membawanya ke mobil ku. Dijalan aku masih memikirkan perkataannya barusan, aku tidak marah karena aku juga mungkin sudah kebal dengan perkataan adikku itu, hanya saja aku heran apakah tidak ada sedikitpun rasa rindunya terhadap kakaknya ini? Sudahlah, mungkin saja dia lelah dengan perjalanan jauh ini. Sesampainya di apartemenku  aku masih belum berani mengajaknya berbicara, aku membuatkannya makan malam, dia memakannya dengan lahap, aku tersenyum, mungkin dia memang kelelahan, aku membiarkannya sendiri di kamarnya. Akhirnya dia tertidur juga, sangat pulas tidurnya, dia tertidur dengan senyum di bibirnya, aku penasaran dengan apa yang di mimpikannya.

Keesokan harinya aku membuatkannya bubur ayam, seingatku itulah yang disukainya, aku bersiap-siap pergi kuliah karena kelasku mulai pagi hari ini.

    “Lou, kakak mau pergi kuliah dulu ya, kamu ingin dibelikan apa sepulang kakak nanti?” Kataku menegurnya.

    “Aku tidak ingin apapun darimu! Jika kau mau pergi, pergi saja dari sini, aku bosan melihatmu.” Bentaknya.

    Aku bingung dengan Louie, apa salahku sehingga dia begitu membenciku? Aku berusaha tegar dengan kata-katanya itu, bagaimanapun kesalku aku tetap menyayanginya. Setiap harinya Louie selalu menjawab kata-kataku seperti itu, walaupun aku menegurnya dengan sangat lembut dia tetap saja seperti itu, terkadang aku meminta maaf padanya, dia menjawab “Kau bahkan tidak tau letak kesalahanmu dimana!” aku selalu saja bingung dengan adikku ini, hingga suatu hari kesabaranku mencapai batasnya, dan tidak sengaja aku membentaknya.

    “Sebenarnya apa salahku?! Mengapa kau sebenci itu pada kakakmu ini?! Bukankah aku sudah meminta maaf padamu?!” Bentakku tanpa berfikir panjang.
  
“Diam kau bodoh! Kau tidak tau sangat besar kesalahanmu , kesalahanmu tidak termanfaatkan!” Dia menjawabku dengan nada yang sangat keras.
  
“Lalu apa yang harus ku perbuat agar kau memaafkanku?! Apa aku harus mengirimmu balik ke rumah orangtuamu?! Membawamu kembali Ayah dan Ibumu yang selalu menyayangimu?!” Mulut dan lidahku dengan spontan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dikatakan pada adik sendiri, aku berbicara tanpa berfikir terlebih dahulu.
  
Mata Louie berkaca-kaca mendengar teriakanku, sepertinya kata-kata yang aku tuturkan padanya benar-benar menyakiti hatinya. Dengan wajah kesal, Louie membanting handphoneku yang berada tepat disampingnya dengan sangat kuat, aku sudah tidak sanggup memarahi Louie lagi, dia sudah hampir menangis, dia masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Aku menghampiri handphone ku, retak kecil tidak masalah bagi ku, aku men-charge-nya karena akan ku pakai untuk kelas kuliah nanti sore, dan sekarang aku akan pergi bekerja dulu, aku pergi ke kamar Louie untuk memberitahunya kalau aku akan keluar.
  
“Lou, kakak akan pergi keluar sebentar.” Kataku sambil menggedor pintu kamarnya.
  
Tidak ada jawaban dari Louie, mungkin dia sedang ingin sendiri. Aku langsung pergi ke cafe di depan apartemen ku. Di lift aku selalu memikirkan Louie, betapa sakit perasaannya saat aku membentaknya, terlihat dari raut wajahnya.
  
Tepat disaat aku sampai di cafe, terdengar dari luar alarm kebakaran apartemen berbunyi, aku bergegas menelfon telfon kamar apartemenku dengan telfon cafe, tidak ada jawaban, apakah Louie sudah keluar? Tidak, firasatku mengatakan hal buruk, aku kembali ke apartemen dan bergegas ke kamarku. Betapa terkejutnya diriku saat melihat Louie tergeletak di lantai, tepat berada didepan handphoneku yang sudah terputus kabel charger-nya. Tanganku gemetar saat mencoba merasakan nafas Louie, syukurlah dia masih bernafas, aku bergegas mengangkat  Louie menjauh dari kabel itu dan menelfon ambulan menggunakan telfon kamar. Ambulan cepat sampai dan akhirnya Louie dibawa ke rumah sakit. Aku sangat khawatir dengan keadaan adikku, sepertinya dia merasa bersalah telah membanting hanphone ku hingga dia mendekati handphone dengan kabel yang memang tidak pantas dipakai lagi itu, di ambulan aku berdoa dengan air mata pada Tuhan semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada adikku. Bagaimanapun mengesalkannya adikku namun aku selalu menyayanginya.
  
Sesampai di rumah sakit, Louie langsung dibawa ke ruangan, aku menunggu dan akhirnya dokter keluar, aku menanyakan keadaan adik laki-laki ku, betapa mengejutkannya kata-kata yang dituturkan oleh sang dokter,  bahwa Louie sekarang sudah tidak bisa berjalan seperti semula lagi dalam jangka yang panjang akibat listrik mengenai saraf otot kakinya, membutuhkan alat bantu untuk bisa membuatnya berjalan, aku membuka pintu ruangan, aku melihat Louie sedang menangis di dalam ruangan itu. Aku berlari menghampirinya.
 
 “Aku akan merawat mu dik, hingga kamu dapat pulih seperti semula, jangan menangis Lou.” Kataku sambil memeluknya dengan sangat erat.
  
Melihat Louie menangis, rasa penyesalan lah yang memenuhi hatiku, jika saja saat itu aku tidak memarahi Louie, jika saja saat itu aku tidak meninggalkannya sendirian di kamar, jika saja saat itu aku tidak menggunakan kabel yang sudah tidak pantas digunakan itu, mungkin semua hal ini tidak akan terjadi.
  
“Aku bukan menangisi kondisiku saat ini kak, aku menangis menyesali perbuatanku padamu selama ini, sebenarnya aku tidak marah padamu, hanya kesal karena kau meninggalkan rumah, meninggalkanku dan tak pernah kembali lagi. Aku sangat bahagia tinggal denganmu, sudah lama aku tidak merasakan kenyamanan seperti yang beberapa hari ini ku rasakan saat tinggal denganmu kak, Ayah dan Ibu selalu sibuk dengan pekerjaannya, dirumah terasa sepi tanpamu, akhirnya aku memutuskan mengirimkanmu surat dengan menyamar sebagai Ayah dan Ibu, mengatakan bahwa kami akan menjengukmu, sebenarnya aku sendirilah yang ingin tinggal denganmu di sini, dan kabur dari rumah. Aku ingin terus tinggal bersamamu kak, aku ingin makan masakanmu lagi setiap hari.” kata-kata Louie yang menggetarkan hatiku, membuatku meneteskan air mata, aku memeluk Louie lebiherat.
  
“Kau boleh tinggal dengan kakak selama yang kau inginkan Louie kakak akan membuatkan bubur ayam kesukaanmu sebanyak yang kau inginkan kau juga bisa bersekolah disini jika kau mau, maafkan kakak Lou” aku dan Louie menangis sangat kencang malam itu. Malam itu adalah malam yang panjang bagi kami.
  
Jika saja di hari itu aku hati-hati menggunakan listrik, tidak mengabaikan peringatan yang telah diberikan padaku, dan tidak hanya mementingkan ego ku, mungkin tidak akan terjadi tragedi ini. Listrik memanglah penting bagi kehidupan kita, namun listrik juga bisa membahayakan hidup kita, berhati-hatilah menggunakannya, jangan mengabaikan peringatan. Sekecil apapun, jangan!

Belum ada Komentar untuk "Contoh cerpen tentang listrik"

Posting Komentar

~ Bila ada pertanyaan dan masukan, silahkan tinggalkan komentar sobat ~

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel